Postingan

Dengan Sereal Umbi Garut Nutriflakes, Lambung Sehat, Maag dan GERD Minggat!

Gambar
Sumber foto: nutriflakes.id Tahukah kamu bahwa maag dan GERD merupakan salah satu penyakit yang paling sering dialami di dunia? Di Indonesia sendiri, prevalensi penyakit maag dan GERD mencapai 27,4% dengan rasio perbandingan 2:1 hingga 3:1 untuk laki-laki dan perempuan (SINT Carolus, 2022). Maag vs GERD Sumber Foto: DrZuhdy.com Meski sering dianggap sama, kedua penyakit ini sebenarnya berbeda. Maag atau disebut juga dengan gastritis merupakan peradangan yang terjadi pada dinding lambung akibat infeksi bakteri Helicobacter pylori . Sedangkan GERD ( Gastroesophageal Reflux Disease ) merupakan suatu kondisi di mana asam lambung naik ke kerongkongan sehingga dapat menginfeksi esofagus. GERD bersifat kronis dan biasanya terjadi secara tiba-tiba. Penderita GERD biasanya merasakan sensasi panas dan nyeri dada. GERD disebabkan oleh lemahnya otot yang berperan dalam buka-tutup klep pada saluran kerongkongan. Sedangkan maag terjadi akibat terganggunya proses pencernaan yang dapat berakibat pada

Tentang Kepedulian

Apa sih kepedulian itu? Hmm,,, sikap yang kita tunjukkan sebagai respon atas perhatian kita kepada sesuatu/seseorang? Begitukah? Lalu, termasuk orang yang peduli kah kita? Aku bahkan tak mengerti apakah aku termasuk orang yang peduli. Seringkali aku merasa bahwa aku adalah sosok yang kurang peduli atau kurang peka terhadap sekitar. Benarkah demikian? Atau mungkin karena aku tidak mengerti saja bagaimana mengekspresikan sikap peduliku kepada orang lain? Ketika ada temanku yang sakit, aku tersayat ingin melakukan sesuatu untuknya. Tapi, sangat sering aku ragu dan takut bagaimana mengungkapkannya serta bingung juga apa yang harus kulakukan hingga akhirnya aku melihat kepedulian orang lain terhadap temanku yang sakit tadi. Ahh,,, di situlah aku merasa menjadi sosok yang tidak manusiawi, tidak punya empati, egois, dan apatis terhadap sekitar. Ada lagi contoh lain, ketika orang-orang di sekitarku ada hajat dan repot dengan berbagai pekerjaan (pekerjaan untuk umat), aku sangat ingin bergabung

Emas Tersembunyi

Malam itu, acara memorial tentang kisah abah almaghfurlah pengasuh pesantren tempatku bernaung. Sebuah kisah yang disampaikan oleh Kiai Badruddin, baru kutau kalau ternyata beliau juga salah satu murid abah. Bahkan tidak hanya beliau, tetapi semua dewan kyai ternyata adalah murid abah. Maa Syaa Allah. Beliau Kiai Badruddin berkisah bahwasanya abah adalah sosok yang selalu menyembunyikan jati dirinya. Abah sering berkisah tentang harta seakan beliau terlihat membabi buta. Padahal, beliau tak pernah resah bila kehilangan hartanya meski itu besar. Ada satu pepatah dari Syekh Abdul Qodir Jailani yang selalu dipegang oleh Abah, bahwa bila kita ingin menghilangkan ketamakan terhadap harta, hendaknya kita kuasai harta itu. Bila kita takut sombong, hendaknya kita sering berada dalam situasi sombong agar kesombongan tersebut berubah menjadi hal biasa. Seperti itulah Abah, beliau seorang alim, zuhud, dan waro'. Tetapi beliau mengemas sosoknya dalam sisi yang lain, yang jauh berbeda dengan pr

TiLik (Titik Balik)

10 Muharrom 1442 Hijriyah Hari ini adalah hari keempat puluh aku di pesantren. Itu artinya, aku sudah bisa pulang tiap weekend, tapi tentu itu bukan pilihanku. Hari ini dan kemarin, hari asyura' dan tasu'a, aku tidur tak kenal massa, tak peduli siang atau malam. Kemarin malam aku tidur jam setengah 1 dan bangun jam 3, aku mandi, sholat, dan mengikuti kegiatan lainnya hingga jam 07.00. Setelah itu, aku tidur hingga jam 11.00. Setelah itu aku mandi, sholat, dan mengikuti kegiatan. Setelahnya? Mungkin anda bertanya apakah saya akan tidur lagi? Tentu tidak, tidur setengah malam dan setengah hari sudah cukup melelahkan, bukan? Lalu, hari ini pun tak jauh beda. Aku bangun, sahur, sholat, dan ikut kegiatan hingga pukul 7, lalu tidur hingga jam 9,,, Baru kuingat! Padahal kemarin itu hari tasu'a di hari jum'at dan aku mandi taubat, tapi ternyata aku belum taubat. Astaghfirullah. Aku teringat dhawuhnya guru ngaji saya bahwa "Paling tidak bergunanya waktu seorang muslim adala

Mimpi di 2 Juni

Sambil mencuci piring, pikiranku berkelana menembus batas dunia nyata. Di sana, Aku seorang gadis 19 tahun yang hendak berhijrah menuju jalan-Nya. Jalan di mana aku menjadi manusia yang lebih bijak dan tak sembrono. Yaaa.... seperti itulah alur mimpinya. Aku bukan pekerja komersial yang mendapatkan upah dengan membiarkan tubuhku disentuh, bukan pula seorang pencuri, atau pembunuh sadis. Aku hanya seorang wanita muda pada umumnya yang seringkali lupa dengan dirinya. Sosok manusia yang membiarkan dirinya terbuai dengan hal-hal yang tak diperlukan dan hidup dalam dunia abstrak yang tak kasat mata, itulah aku. Dulu, aku pernah bermimpi menjadi seorang dokter yang baik hati dan kaya raya. Pernah pula aku bermimpi menjadi seorang bintang film terkemuka, sutradara ternama, dan ilmuwan muda penuh talenta. Lambat laun, setelah waktu terlewat sekian tahun, aku tau bahwa itu hanya sekedar mimpi. Mimpi yang tak berarti karena tiada harapan yang penuh arti. Oh,,, mimpi... Ia bagai rasa lapar yang m

Hati-Hati dengan Hati

Tak sampai 5 menit kemudian, adzan maghrib berkumandang. "Rebus sayurnya, lalu buat mie instan saja karena sudah terlalu sore untuk memasak, kalau kamu mau buat, ya buat aja sendiri ya!", kata Ibu. "Udah hampir maghrib, Bu. Udah pokoknya aku cuma sampai masukin mie instan aja nggak sampai kasih bumbu. Maghrib, Bu..... Maghrib....", sahutku "Ya udah, habis sayurnya matang masukin aja mie instannya dalam air, jangan lupa airnya diganti!" "Mie nya dimasukin sebelum airnya mendidih, Bu?" "Iya, terus tinggalin aja sana!" Kata-kata terakhir Ibu begitu nyaring di telingaku beriringan dengan suara adzan maghrib. Rona wajahnya kusut seolah hendak menamparku. Aku berlalu untuk berwudlu dan sholat. Selepas kuangkat tangan untuk takbirotul ihrom, hatiku seolah menyusut, "Yaa Allah, salahkah aku jika menolak Ibu dengan alasan mendahulukan sholat? Aku berkata kepada Ibu seolah-olah aku adalah hambamu yang amat taat, sedangkan terhadap perintah I